Museum Gedung Sate, Suguhkan Kilas Balik Pembangunan



Bandung yang diberi gelar Paris van Java sejak zaman penjajahan Belanda karena memiliki suasana kota yang mirip dengan kota Paris yang menjadi pusat mode. Kota Bandung memiliki ikon unik yakni Gedung Sate, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi ciri utama ibukota Jawa Barat ini. Gedung sate beralamat di Jalan Diponegoro No. 22. Selain dijadikan sebagai kantor pemerintahan Provinsi Jawa Barat, Gedung Sate juga memiliki sebuah museum yang berada tepat di belakang bangunan. Museum ini berisikan tentang sejarah pembangunan Gedung Sate.
Ketika pertama kali kita memasuki ruang depan museum kita disuguhi dengan sejarah pembangunan Gedung Sate serta miniatur-miniatur gedung dan material. Gedung Sate yang pada mulanya disebut Gouvernements Bedrijven atau GB, namun lama-kelamaan banyak orang menyebut gedung ini dengan sebutan Gedung Sate karena terdapat ornaen tusuk sate di puncak bangunannya. Latar belakang pembangunan gedung ini karena saat zaman kolonial Belanda, Bandung dipersiapkan untuk menjadi ibu kota Hindia-Belanda. Pada awal abad ke Awal abad ke 11 Daendels membangun Jalan Raya Pos sepanjang 1000 km dari Anyer hingga Panarukan. Ia meminta Wirnatakusuma II untuk mendirikan kota di pinggir jalan tersebut. Tahap awal pendirian kota, diawali dengan membangun kompleks alun-alun yang terdiri dari pendopo, bale Bandung, dan  pasar yang kemudian menjadi pusat kota Bandung. Sejak saat itu Bandung terus berkembang dengan berdirinya bermacam bangunan baru.
Pada tahun 1920 peletakan batu pertama dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, putri sulung dari walikota Bandung saat itu yaitu B. Coops dan Petronella Roelofsen. Gedung ini dibangun sebagai pusat intansi pemeintaha. Didirikan  di sebelah utara Bandung diatas lahan seluas 27 hektar, yang teridir dar 14 gedung pemerintahan. Gedung pertama yang dibangun ialah Gedung Sate dan Gedung PTT. Proyek pembangunan melibatkan 4 tim pembangun. Salah satunya yaitu tim arsitek yg bekerja khusus merancang bangunan gedung sate dibawah pimpinan Johan Gerber .
Pembangunan Gedung Sate menghabiskan waktu selama 4 tahun yang melibatkan 2000 orang  pekerja warga Bandung yang sudah berpengalaman membangun rumah residen priangan dan kampus Institut Teknologi Bandung, dibawah pimpinan komando Lim A Goh.  Serta puluhan ahli pahat batu dan kayu yang  didatangkan secara khusus dari Cina ini menghabiskan dana sebesar 6.000.000 gulden. Jumlah biaya yang dihabiskan dilambangkan dengan enam ornamen bulatan kecil pada penangkal petir di puncak menara Gedung Sate yang menjadi simbol gedung ini.
 Pembangunan Gedung ini memadukan dua kebudayaan secara harmonis yaitu gaya timur dan barat serta menampilkan keragaman budaya dari berbagai daerah. Pondasi gedung menggunakan batuan andesit seperti yang  digunakan pada  candi-candi di Jawa Tengah  dan  Jawa Timur. Ornamen pilar dan relung-relung bergaya eropa terdapat di seluruh bagian  gedung. Pada bagan atap digunakan sirap khas nusantara yang dipadukan dengan konstruksi  berangka baja yang menjadikannya sebagai banguna b esar pertama di Hindia-Belanda  yang menggunakan teknologi ini. pencahayaan lantai dasar disiasati agar alami dengan menggunakan  kaca prisma yang dipasang pada langit-langit ruangan agar bias matahari dapat masuk dalam berkas cahaya yang indah.
Di Salah satu ruangan terdapat jendela besar dengn kaca patri bergambar tiga simbol unik yang berkait erat dengn fungsi  Gedung  Sate  pada saat setelah didirikan. Ketiga simbol itu ialah terompet yang mewakili Kantor PTT, roda bersayap yang mewakili Dinas Kereta Api, serta dua palu bersilang mewakili Dinas Geologi dan Pertambangan. Gedung Sate juga memiliki sebuah ruangan tersembunyi yang tidak terlihat dari sudut manapun, didalamnya Terdapat alat katrol dalam pembangunan gedung.
Pada masa Masa revolusi kemerdekaan Gedung Sate sempat diduduki oleh tentara Gurkha.  untuk mempertahankannya 21 pemuda  berjuang mati-matian walaupun dengan persenjataan seadanya yang mengakibatkan tujuh orang gugur. Beberapa tahun kemudian, kerangka jenazah ditemukan terkubur di halaman belakang Gedung Sate. Tiga kerangka yang dapat diidentifikasi dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan, Cikutra. Sejak didirikannya  Gedung Sate berfungsi sebagai Kantor Pusat Deprtemen Pekerjaan Umum. Tahun 1980 Gedung Sate berfungsi sebagai kantor Gubernur dan Pusat Pemerintahan Provinsi Jawa Barat.
Museum yang memasang tarif Rp5000,00 ini tidak hanya berisikan sejarah pembangunan saja, tetapi juga terdapat ruang  audio visual, ruang augmented reality, dan ruang virtual reality. Ruang audio visual yang menayangkan video tentang sejarah dibangunnya Gedung Sate, ruangan ini terdapat 35 kursi. Sedangkan ruang Augmented Reality yaitu ruangan dimana terdpat penggabungan teknologi antara benda maya dua dimensi atau benda maya tiga dimens dengan dunia nyata, disana kita merasakan suasana Indonesia tempo dulu dan berfoto mengenakan properti yang ada seperti caping bersama orang-orang yang sedang bekerja dan ditampilkan melalui layar monitor. Dan yang terakhir ada ruang virtual reality, di ruangan itu kita bisa merasakan sensasi menaiki  balon gas dan disuguhi dengan pemandangan kota Bandung.
Menurut Muhamad Iqbal Setiawan selaku staf program museum Gedung Sate pengunjung yang datang lebih banyak ketika hari biasa (weekday) ketimbang hari libur (weekend). Karena lebih banyak yang melakukan reservasi dari sekolah-sekolah pada hari biasa. Untuk reservasi itu sendiri bisa dilakukan H-1 kunjungan, namun akan lebih baik jika dilakukan 2-3 mingggu sebelumnya karena ditakutkan jadwalnya penuh. Harga tiket bagi pengunjung reservasi maupun pengunjung biasa tetap sama, “Bedanya pengunjun reservasi disediakan tour guide untuk memandu, sedangkan pengunjung biasa tidak,” ujarnya saat ditemui di museum Gedung Sate.
Rizka Realisa pengujung asal Bekasi tertarik untuk mengunjungi museum ini karena ingin mengatahui sejarah gedung yang menjadi ikon Jawa Barat ini. Selain itu, kini sudah jarang ditemui bangunan yang didirikan pada zaman kolonial Belanda. Ia menuturkan bahwa museum ini sangat menarik dan mengedukasi karena dibangun dari berbagai pencampuran budaya dari mulai pondasi hingga atapnya, “Museum ini juga sangat mengedukasi, terutama bagi pelajar. Kita bisa tahu kalau arsitektur  gedung ini bukan berasal dari Indonesia,” ujar pengunjung asal Bekasi.

Komentar