Sebelumnya aku udah pernah bilang kalau aku baru lulus SMK dan mau masuk kuliah. Jadi aku ga lolos SMBPTN, kemudian aku ikut tes msuk PTS dan alhamdulillah lolos di jurusan yang aku inginkan. Tapi, masa perkuliahan belum juga mulai jadi aku masih nganggur ga da kerjaan wkwk. Bosen banget deh jujur.
Oke jadi aku mau cerita tentang kenapa aku pergi ke Kutoarjo. nuat awalnya sih ingin pergi ke Solo (Kampung Halaman) karena Kakek aku meninggal tanggal 18 Agustus 2018 kemarin, tapi langsung dikuburkan hari itu juga. Udah nyari tiket untuk hari itu alias dadakan, tapi gaada semuanya habis mulai dari kereta sampai pesawat. Jadi aku dan sekeluarga pulangnya tanggal 22 Agustus.
Hari minggunya tanggal 20 Agustus, aku nyari tiket untuk kereta ekonomi kahuripan tujuan stasiun Purwosari (Solo) tapi gaada gengs habis. Akhirnya beli tiket tuh untuk tujuan Kutoarjo, rencananya nanti disambung pake kereta lokal namanya prameks (nulisnya aku lupa gimana hehe)
Jam 9 malam aku naik kereta tujuan Kutoarjo dari stasiun Kiaracondong
Suasana di dalam kereta
Jam 5 shubuh sampai di stasiun Kutoarjo, kemudian aku menjalankan sholat shubuh. Setelah selesai sholat shubuh aku duduk-duduk santai menunggu Bapa yang sedang mengantre tiket kereta lokal untuk ke Solo. Ternyata tiket yang didapat hanya tiga, sedangkan kami berempat. alhasil Bapa menjual lagi tiketnya pada orang lain (dengan harga yang sama) Kutoarjo Solo harganya Rp.15.000,-
Kami menunggu kereta selanjutya yang berangkat pukul 9. Disana kami berjalan-jalan melihat-lihat keadaan stasiun Kutoarjo. Ternyata tempatnya nyaman, indah, seperti halnya pedesaan. Banyak anak-anak pergi sekolah menggunakan sepeda (lupa ga difoto hihi)
Suasana stasiun Kutoarjo
Duduk-duduk Santai di Kursi Tunggu
Menikmati Sunrise, keren kan hehe ...
Menikmati segelas susu yang dibeli di mba-mba penjual kopi minuman seduh, harganya cuma Rp.3000,- murah kan
Suasana Jalan di sekitar stasiun
Setelah menunggu lama, akhirnya aku melanjutkan perjalanan ke Solo memakai kereta Prameks
Nah itu dia, perjalanan pulang kampung yang bersinggah dulu ke Stasiun Kutoarjo
untuk saran:
Seharusnya kereta api prameks (lokal) jika memang tidak menggunakan tempat duduk, menyediakan jumlah tiket yang lebih banyak. Kalau sama-sama tidak menggunakan nomer tempat duduk alias bebas, ya kenapa tidak diperbanyak saja jumlahnya? Kasian kan orang-orang yang dari jauh, kalau harus menunggu lagi lama. Bagaimana kalau di kampungnya ada urusan yang mengharuskannya pergi tepat waktu atau dalam waktu cepat?
Kemudian untuk kamar mandi di stasiun kurang banyak dan luas, penumpang banyak yang turun di stasiun ini. Pastinya setelah turun dari kereta banyak penumpang yang ingin pergi ke kamar mandi, tapi sangat disayangkan jumlahnya kurang banyak dan kurang luas. Sehingga antrian membludak sampai ke luar.
Untuk pengantrian tiket kereta api lokal seharusnya petugas lebih disiplin lagi, jangan sampaiakeadian yang saya alami terulang. Ketika semua oramg telah lama mengantre untuk mendapat tiket (saat itu loket tutup, tapi sudah banyak yang mengantre) kemudian ada orang yang menyela antrean, dan parahnya ia menyela paling depan. Sedangkan petugas tidak mengetahinya, jika seseorang tidak memberitahunya. Seharusnya petugas juga memberikan sanksi yang tegas, jangan cuma menegurnya. Kalau hanya teguran orang-orang tidak akan kapok, karena saya perhatikan sekarang orang-orang jika ditegur tidak mengacuhkannya alias masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Itulah cerita mampirku ke Stasiun Kutoarjo dan sedikit saran yang mungkin bisa menjadi bahan perbaikan untuk kedepannya.














Komentar
Posting Komentar